Awalnya Menempati Rumah Henry Maclaine Pont
Museum Trowulan per 1 Januari 2007 ini dicanangkan sebagai Pusat Informasi Majapahit. Bagaimana sejarah perjalanannya? Berikut kisahnya sebagaimana disampaikan Aris Soviani dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan di Jatim kepada Radar Mojokerto.

KERAJAAN Majapahit merupakan kerajaan besar yang berdiri pada 12 November 1293. Kerajaan ini bertahan selama 2 abad, yakni abad XIII-XV. Ibukotanya beberapa kali mengalami perpindahan, dan yang terakhir di Trowulan.

Hal itulah yang menjadikan daerah ini kaya akan peninggalan-peninggalan Kerajaan Majapahit, seperti beberapa candi yang ada. Yaitu Candi Bajang Ratu, Kedaton, Tikus, Kolam Segaran dan lain-lain. Selain itu, masih banyak peninggalan yang berupa pondasi rumah-komponen bangunan lain. Juga artefak lain yang jumlahnya banyak.

Atas alasan inilah, Bupati Mojokerto sebelum negara ini merdeka, yakni Bupati RAA Kromojoyo Adinegoro bekerja sama dengan arkeolog Belanda lulusan Technische Hogesholl Delft (THD) pada 24 April 1924 mendirikan Oudheeidkundige Vereeneging Majapahit (OVM). Perkumpulan ini bergerak dan bertujuan untuk mengadakan penelitian mengungkap Kota Majapahit. Kantor OVM menempati sebuah gedung di Jl Raya Trowulan, yang juga menjadi tempat tinggal Maclaine Pont dan keluarganya.

Perkumpulan ini ternyata cukup berhasil menyibak keanekaragaman peninggalan Majapahit. Baik dari penggalian, survei maupun penemuan masyarakat. Benda-benda ini dikumpulkan di kantor OVM. Karena jumlahnya terus bertambah, maka pada tahun 1926 dibangunkanlah oleh bupati enam bangunan lain untuk menampung jumlah peninggalan ini dengan banguan bergaya arstitektur tradisional. Tempat ini kemudian dikenal masyarakat dengan nama Museum Trowulan yang dibuka untuk umum.

Sayang, pergantian kekuasaan dari Belanda ke Jepang, membuat kondisi juga berubah. Tragis memang. Maclaine Pont yang selama ini cukup berjasa dalam mengangkat peninggalan Kerajaan Majapahit, ikut ditawan jepang. Karena dia berkewarganegaan Belanda. Museum ini pun tutup.

Barulah pada tahun 1943 atas perintah Prof Kayashima, pemimpin Kantor Urusan Barang Kuno di Jakarta, museum ini dibuka kembali. Barang-barang milik maclaine Pont pribadi di lelang. Dan sayangnya, sebagian koleksi museum ikut dilelang juga.

Perjalanan musem ini tidak tenang sampai di sini. Musibah dahsyat terjadi pada tahun 1966. Angin puyuh memorakporandakan Trowulan dan sekitarnya. Akibatnya, bangunan museum ini ambruk dan koleksinya dikumpulkan di gedung bekas OVM.

Selain mengumpulkan barang-barang peninggalan Majapahit, Museum Trowulan yang di bawah pengawasan Kantor Lembaga Peninggalan Purbakala Nasional Cabang II di Mojokerto tidak hanya mengumpulkan barang-barang asal Trowulan. Karena itu, kantor OVM pun tidak muat lagi.

Karena itu, akhirnya dibangunlah bangunan berlantai dua di lapangan sangat luas yang oleh masyarakat dikenal dengan dengan Lapangan Bubat dengan luas areal 57.255 m2. Di lokasi inilah Musem Trowulan berdiri sampai sekarang. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari lokasi museum yang lama. Perpindahan ini terjadi pada tahun 1 Juli 1987.

Bangunan ini pada awalnya disebut dengan nama Balai Penyelamatan Benda Kuno. Kemudian diganti lagi dengan nama Balai Penyelamatan Arca. Koleksi di museum ini kian bertambah. Karena pada tahun 1999 ada penambahan koleksi dari Gedung Arca Mojokerto (sebelah timur kantor pemkab sekarang) yang di-ruislag gedungnya oleh Pemkab Mojokerto. Nah, per 1 Januari tahun ini, akhirnya Museum Trowulan ditetapkan sebagai Pusat Informasi Majapahit.

Ke depan, Pusat Informasi Majapahit ini akan lebih difungsikan sebagai wahana rekreasi, sekaligus media pembelajaran budaya bagi masyarakat. Khususnya bagi para generasi muda yang diharapkan mampu memberikan pencerahan dan kesan mendalam tentang Kerajaan Majapahit.

Sumber : KHOIRUL INAYAH (Radar Mojokerto)